.

Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

18 Januari, 2012

Cahaya Hati

Engkau bagiku penerang

Di saat hati bimbang

Dirimu bagiku pelita

Di saat hatiku gelap gulita


Kau adalah cahaya hati

Namun entah kenapa

Karena sebab apa

Cahaya itu lambat laun

Redup kurang sinaran


Cahayanya kini tak lagi terang

Tak lagi menerangi hatiku yang bimbang

Hanya bayangnya saja yang samar

Tak bisa mengobatiku yang gusar


Kuharap cahaya itu terang kembali

Menerangiku lagi

Menemaniku dan membimbingku lagi

Karena kuyakin kaulahh cahaya hati

Karenaku Cinta

Semakin kering hatiku ini

Tidak ada yang menyirami

Aku kehilangan sebuah cinta

Entah harus apa aku perbuat


Sakitku hanya aku yang tahu

Bukan aku ingin jauh darimu

Tapi aku tak tahu kenapa begini


Aku tak ingin

Melihat engkau terluka

Dengan perasaanku yang salah

Aku tak ingin mengartikan cintamu

Sebagai sebuah kebanggaan dariku


Aku cinta perempuan

Karena dia penuh kasih sayang

Aku cinta wanita

Bukan Karena dia membuatku bangga

Tapi aku cinta wanita

Karena dia bisa merubah duka menjadi tawa

Bimbang kuberbuat

Aku Memasuki areal tak berpenghuni

Sunyi senyap tak berlampu

Kutelusuri setiap jejaknya

Kulalui setiap tapaknya

Memberikan aku kebimbangan yang kusut masai

Cobaku telusuri setiap ujung benang itu

Helai demi helai kutarik

Hati-hati kucoba

Tapi semakin aku tak mengerti ujung pangkalnya

Makin membulat dan tak teratur


Bimbangku masalahku

Masalahku adalah bimbang

Ingin berbuat tapi terhambat

Ingin diam tapi tersentak dan lompat

Mudah-mudahan kudapati lentera hatiku

Yang dapat menerangi ruang hampa cahaya ini

Sehingga kaki ini tak salah melangkah lagi

Tahu tentang duri dan rumput hijau menguning

Sehingga ku tak gelap mata

Dalam Menerima beraneka rakam dunia

Cairo, 27 Desember 2006

Sepi

Aku mungkin jauh dari tenpatku berteduh

Yang kutahu sekarang aku sendiri

Jauh dari abi yang memberikan pengetahuan

Jauh dari umi yang memberikan perhatian

Jauh dari saudara yang memberi kesejukan


Di negeri ini kumelangkah

Tertatih dan terbungkuk mengemban sarat

Tanpa peta yang terlipat rapi

Meretas mimpi yang akan menjadi pasti

Di ujung masa menanti


Kumelangkah dengan pasti

Walaupun keyakinan tipis di hati

Tapi aku tak akan sia-sia

Karena aku masih saudaramu

Bimbang

Hati mengapa kau cepat sekali bimbang

Terombang-ambing kearah yang arang

Hati mengapa kau merasa resah tak berarti ?

Menimbulkan pertanyaaan yang sulit dimengerti

Hati kenapa kau cepat jatuh

Kepada hal yang hanya semu dan tak pasti


Wahai hati…!

Mana dinding kokohmu

Wahai hati..!

Siapa yang telah menggoyahkanmu

Apakah seorang bidadari yang sedang bertindak

Atau hanya sebuah impian yang hinggap

Tanpa memberikan arti yang mudah dimengerti


Wahai hati

Apa sebenarnya yang harus kulakukan aku bingung

Aku harus memulai dari mana !!

Menata hati yang kocar-kacir

Akibat kejadian yang tak sesuai dengan harapan

Mungkin hanya dengan mengingatnya saja

Aku sedikit tenang

Aku mulai merapikan berkasmu

Sehingga kau kembali kokoh berdiri

Meniti Harapan

Kuterlahir di ujung fajar

Meniti fajar kucoba

Memberikan yang terbaik untuk yang terbaik

Kuterbangkan harapanku ke atas sana


Coba kucoba untuk menggapai itu

Dengan usaha dan do`a

Terinjak terkadang

Terlena dengan bayangan yang semu

Tapi aku tetap mencoba melangkah


Walau darah ini menetes

Walau tubuh ini kering oleh keringat

Tetapi kuharap hati ini tak kering

Oleh harapan dan harapan

Sehingga kudapat menjemput itu

Rantauan

Aku mungkin merasa sepi dan hampa

Jauh dan terpisah dari hatiku

Kemarin tertinggal ditambatan cinta

Yang kurasa semakin jauh dan tidak menentu


Kuingin rindu

Tapi pada siapa kumerindu

Kuingin berbagi kisah hidup

Tetapi pada siapa kuberbagi


Mungkinkah kuberbagi berita kepada bintang

Ataukah aku simpan dan kubungkus di dasar hati

Ataukah harusku buang dan kuabaikan saja


Oh… aku bingung dan pusing

Adakah engkau dapat menjawab keresahanku

Ataukah engkau hanya diam dan akupun segan

Sehingga semakin kubingung dan resah

Dan tertegun serta termenung saja

Sehingga tiada yang bisa kumengerti

Rantauan

Aku mungkin merasa sepi dan hampa

Jauh dan terpisah dari hatiku

Kemarin tertinggal ditambatan cinta

Yang kurasa semakin jauh dan tidak menentu


Kuingin rindu

Tapi pada siapa kumerindu

Kuingin berbagi kisah hidup

Tetapi pada siapa kuberbagi


Mungkinkah kuberbagi berita kepada bintang

Ataukah aku simpan dan kubungkus di dasar hati

Ataukah harusku buang dan kuabaikan saja


Oh… aku bingung dan pusing

Adakah engkau dapat menjawab keresahanku

Ataukah engkau hanya diam dan akupun segan

Sehingga semakin kubingung dan resah

Dan tertegun serta termenung saja

Sehingga tiada yang bisa kumengerti

Harapanku

Aku dan mimpi ku masih saja terdiam

Menatap masa depan yang cerah

Terhempas ke belakang terkadang

Meraung dan mengais tanah bumi sambil terisak

Namun Tetap ku mengahrapkan sesuat yang pasti berguna


Menjalankan apa yang telah menjadi keinginanku

Walaupun duri tetap menancap di telapak kakiku

Walau batu yang besar menghadang perjalananku

Dengan Do`a dan Harapan kepada yang kuasa aku tetap menatap

Menyongsong bintang masa depanku.

Tak tergambar

Dia terlukis diwajahku

Dia tergambar di kalbuku

Tersirat dan tampak nyata

Menumbuhkan cinta yang dalam


Bila cinta itu datang

Tak ayal daya akan terkembang

Jangan pernah merasa hilang

Jika belum pasti dia hilang


Adakah lukisanku terukir dihatinya ?

Ataukah tidak ada bekas dari kenangan

Yang kutahu hanyalah cintaku

Tapi aku tak tahu apa yang dirasa

Oleh kekasih yang tak tergambar adanya

Cairo, 27 januari 2006

Mungkinkah sesuatu

Aku adalah aku

Terwujud darii berbagai ragam

Ragam sifat dan prilaku

Coba dipahami jika bisa

Bisa dipahami jika memang dicoba


Saya selalu tertawa

Namun hati tak selalu searah

Kalau sedih dirundung redam

Maka jangan salahkan apa itu rasa

Karena rasa hanya bisa diraba

Dengan hati dan jiwa

Jangan Pernah

Jangan pernah merasa bisa

Jika ilmu tiada

Jangan merasa engkau mahir

Jika tidak pernah berpikir


Jangan pernah merasa menyesal

Karena sesal tiada guna

Pandang jalan yang terbentang

Jangan pernah menoleh dengan kesal


Indah nian hidup ini dirasa

Rasa pahit pula jika dipikir

Tapi jangan pernah

Dan jangan pernanh putus asa

Karena semua mengandung hikmah

Cairo 9 desember 2005 pukul 4.30

Ketakutan Kata

Datang ke ujung pelupuk mata

Membedah keheningan nurani

Melewati batas alam sehat ini

Memberi kesejukan pada hati


Aneh kurasa

Ucapku ingin

Tapi pandang tak kunjung

Coba ucap lagi


Tapi kaku terpaku

Akal habis terasa

Tak jawabpun kuraih

Hanya bisu cipta sunyi sepi


Kuharap sapa muncul

Tapi tak juga sua

Tak terasa waktupun berlalu


Kenapa begini

Kenapa begitu

Aku tak tahu kapan ada akhir

Ketika cinta terus pergi

Akibat takut pada satu kata tolak

(Puisi Santri 9)

Khianat

Sehelai dahan pohon kelapa melambai

Seutas daun dirangkai

Sekelompok burung merak meliuk-liuk

Ketika semua merasa dia yang oke


Ketika dikatakan kata manis

Terasa bagai air teh yang sedap

Merasa bagai seorang yang tiada tanding

Ternyata yang kuminum teh berbisa


Seketika sekujur tubuh kaku

Menghitam mengeras dan menggumpal

Tambah disayat-sayat duri beracun

Dan tanpa sadar aku terkapar di tempat


Dia yang menuang teh kehidupan

Menuang ke dalam cangkir-cangkir hati

Ternyata merusak cangkir itu

Dan akhirnya jatuh berderai berkeping-keping

(Puisi Santri 7)

Hitam Pekat

Waktu kuleweati sederet burung camar

Berkicau indah namun tak bermakna

Sebuah asa menghitam membentuk

Waktu kutahu aku seorang hitam pekat


Secercah datang mendaki

Setapal tergopoh-gopoh

Sedesa berkerumun bak semut londo

Aku tetap seorang hitam pekat


Kau datang membawa kunang-kunang

Terang terkadang sinarnya

Namun tetap saja redup redam

Dan aku tetap seorang hitam pekat


Kucoba untuk menjadi bangau

Kesana-kesini ingin cari teduh

Namun tetap saja dia kekubangannya

Aku tetap saja seorang hitam pekat


Ketika kumerasa di terminal

Berkicau bernyanyi riuh riang

Namun aku tetaplah aku

Aku seorang hitam pekat


Aku ingin menjadi putih bersinar

Sinarnya merasuk ke dalam

Tapi tak ayal kapan itu ada

Dan aku sekarang hitam pekat

(Puisi Santri 6)

Gadis

Wajah mekar merona

Memberi kesejukan tersendiri

Gerakmu nan anggun

Cerminan asaku di kemudian hari


Kau karya Sang pencipta

Memiliki anugerah yang terpendam

Memberi ketenangan bagi yang memandang

Membuat orang merenung diri

(Puisi Santri 5)

Sahabatku

Kau sahabatku

Memberi arti alur hidup

Menerangi jalan gelapku

Menuang kesejukan dalam kekerontangan


Tapi….

Apakah kau tahu..?

Diri ini masih merasa sepi

Diri ini masih merasa hina

Diri ini kurang tenaga


Ah…

Andai kau tahu kau hai sahabat

Diri ini beku ketika menerima itu

Diri ini benci menerima itu


Itu yang kaupun tak mengerti

Itu yang membuat hati ini kelu

Itu yang membuat hati ini menangis

Seakan kau orang lain

Yang bukan menjadi sandarku

(Pusi Santri 4)

Luka

Tersayat tecabik

Terhempas terbuang

Terpotong tak luka

Terluka tapi tak luka


Hati mata nurani

Meberikan lentera hidup

Terbakar kadang oleh api

Dingin kadang bak kutub es


Tergores luka hati

Terasa menyengat diri

Membimbing jalan menuju duri

Andai kau dapat mengerti

(Puisi Santri 3)

Cinta di batas impian

Kasih datang menebar kasih

Datang membawa angin segar

Meresap ke dalam relung-relung hati

Menyalakan pelita hati yang lara


Gadis impian mencari jalan

Menebarkan rona-rona merah

Merekah bak bunga mawar

Memberikan ketenangan hati


Kau yang dipuja

Sulit diraih merenkuh rindu

Akibat diri yang hina dina

Akankah dapat kuraih kesejukan..?


Ah…

Andaikan mimpi itu menghampiriku

Hati mekar dihulu rindu

Memberi jalan kehidupan baru

(Puisi Santri 2)

Uang

kau bagai fatamorgana

ditengah padang pasir

cepat datang dan cepat pergi

orang gila karenamu

orang perang karenamu

dan karnamu pula orang berbakti

sampai lupa harga diri

(Puisi Santri 1)