.

Tampilkan postingan dengan label Resonansi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Resonansi. Tampilkan semua postingan

17 Juni, 2009

Welcome to Gudang !

Mesir,adalah Negara yang indah lagi elok, didalamnya mengalir salah satu sunga yang mata airnya berasal dari surga yaitu nil yang memberikan kehidupan dan kesejahteraan terhadap penduduk mesir, pesona dan simpanan khazanah budaya dan ilmu pengetahuan menjadikan mesir sebagai Negara yang menjadikan pariwisata sebagai sumber mata Devisa Negara ini setelah terusan suez.

Tidak hanya itu saja mesir pun memilik beberapa julukan dan gelar yang disematkan dipundaknya seperti Negeri kinanah disebabkan kondisi Negara yang stabil dan damai jauh dari huru hara atau negeri seribu menara karena terpancang lebih dari seribu menara yang tegak berdiri kokoh yang membuatnya indah. Namun yang paling familiar bagi umat islam mungkin adalah ardul anbiya atau negeri para nabi karena sejrah telah berbicara dan menorehkan tintanya bahwa banyak sekali nabi sebagai penyambung lidah Allah SWT telah hidup dan berinteraksi dinegeri mesir ini.

Dari sudut pandang sejarah, Mesir adalah pusat dari pada peradaban manusia, raja fira`un yang terkenal arsitektur bangunan terhebat yang telah menghasilkan pyramid yang indah namun lalim pun memiliki KTP mesir dan beberapa nabi seperti nabi Musa As pun menjadikan mesir sebagai lahan dakwahnya sehingga tak heran ketika berinteraksi dengan orang mesir pasti dia selalu menyebut tercinta sebagai ummudunya atau ibu dunia, mesir dengan pesona yang dimiliki. Memberikan tempat tersendiri di mata Masisir (Mahasiswa Indonesia yang ada di mesir), keberadaan Al Azhar sebagai universitas tertua yang telah banyak menghasilkan ulama-ulama terkenal seperti Dr Yusuf Al Qordhowi dan satu hal yang tak kalah penting adalah biaya pendidikan yang sangat yang murah dibandingkan dengan Biaya pendidikan di Indonesia yaitu dengan hanya membayar rusum pertahun sebesar 70 Pound saja mahasiswa Indonesia yang ada di Mesir bisa merasakan pendidikan perguruan tinggi.

Belum lagi biaya hidup yang bisa dijangkau oleh kalangan menengah ke bawah membuatnya sebagai sarana pendidikan yang berkualitas namun tidak menjerat leher-leher kaum buruh dan akar rumput yang semakin hari semakin susah untuyk mendapatkan pendidikan yang layak guna dan layak pakai. Dengan beberapa kelebihan tersebut makin terpatrilah dalam Benak para calon Mahasiswa Indonesia yang memiliki keinginan untuk meneruskan studinya ke mesir ini terbayang bahwa mesir adalah gudang ilmu yang menyimpan beberapa "barang pokok" yang harus didapatkan sehingga, tak heran dari tahun ke tahun jumlah Mahasiswa menurut statistik PPMI Mesir menunjukan bahwa dari tahun ke tahun menunjukkan angka peningkatan yang drastis.

Namun dibalik keangunannya sebuah gaun yang indah pastilah terdapat kekurangan, begitu pula Mesir sebagai gudang ilmu terkadang dilupakan oleh pencari gudang sendiri dalam mencari kunci gudang ilmu tersebut sehingga tak jarang ditemui Mahasiswa mesir seakan kehilangan arah dan tujuan dan tak jarang ditemui Mahasiswa Indonesia yang secara psikolog sudah menderita penyakit putus asa akibat tidak dapat memasuki gudang tersebut, sebuah pepatah arab mengatakan bahwa untuk menuju sebuah tujuan yang ingin dicapai harus tahu tata cara serta metode yang harus dikerjakan, sebab tidak akan bisa berjalan sebuah perahu jikalau tidak dijalankan pada tempat yang tepat yaitu air begitu juga mencari ilmu di mesir ini, ketika kaki telah dipijakkan didepan sebuah gudang ilmu yang amat luas pertama yang harus ditanyakan adalah bagaimana cara memasuki areal gudang tersebut guna mendapatkan apa yang kita perlu, haruskah dengan cara mendobrak pintu tersebut sehingga pintu itu roboh atau harus dengan mencari kunci terlebih dahulu sehingga dengan gampang kita melangkah masuk ke dalam, semua itu tergantung pada personal masing-masing namun yang pasti manusia diciptakan Allah SWT sebagai mahluk yang memiliki kemampuan yang sama seorang Albert Einstein yang dikenal sebagai seorang yang jenius ternyata memiliki kemampuan dan volume otak yang sama dengan manusia bisa saja hanya saja satu hal yang berbeda Albert Einstein telah menemukan metode dan jalan yang cocok dalam menuntut ilmu dan yang pasti Albert Einstein tidak menghabiskan tetasan keringat yang sedikit. Sudah sepantaslah bersyukur orang yang telah sampai di negeri penuh ilmu, jangan sampai ketika sudah sampai dikawasan gudang ilmu ternyata yang didapatkan hanyalah gambaran luar dari gudang ilmu saja, sedangkan dalamnya tidak mendapatkan apapun.

Coret-coretan iseng ini hanyalah sebagai pengingat belaka, mungkin tidaklah banyak memberikan ilmu bagi yang membacanya namun setidaknya bisa menjadi sedikit bahan renungan bersama terhadap tujuan dan cita-cita masing-masing, sudah berhasilkah kita memasuki gudang ilmu? Jika belum sudah seberapa besarkah usaha dan do`a yang telah dikerjakan untuk memasuki gudang ilmu tersebut? Jika sudah berusaha semaksimal mungkin coba ditanyakan sekali lagi kepada diri masing-masing sebandingkah kita dengan usaha dan do`a Nabi Zakariya As yang tidak menyerah dalam berusaha dan berdo`a kepada Allah subhanahu wata`ala yang tersurat di surat maryam ayat 2-4 :(Penjelasan rahmat rab kamu kepada hambanya Zakaria, yaitu takkala ia berdo`a kepada rabnya dengan suara yang lembut, ia berkata :"ya tuhanku sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku sudah beruban dan aku belum pernah kecewa dalam berdo`a kepada engkau ya rabku).

Wallahu `alam Bishowab

12 Juni, 2009

Belajar dari Om Thomas Alva Edison

Selepas up-grading kemarin, ternyata aku sangat susah sekali membuat sebuah karya yang bisa dikumpulkan ke majalah yang bisa menyambungkan cita-citaku itu. Entah sudah beberapa kali saya merenung dan berfikir apa yang harus aku tulis. Padahal menurut beberapa senior, “mengetik prespektif itu paling enak dan mudah” ujar seorang senior selepas up-grading kemarin di PCIM. Aku masih termenung dan terdiam di sudut kamarku memikirkan apa yang harus aku tulis untuk Sinar Muhammadiyah. Hamparan kertas putih masih belum tergores sedikit pun oleh tinta kesayanganku, kecuali tertulis disamping atas kertas `Perspektif' by... Sedang untuk judul sendiri, aku belum menemukan apapun.

"Sudah seminggu ini mencari judul kok belum ketemu juga yah, apa lagi isinya, ujar hatiku mencoba mengoreksi kemalasanku. "Mungkin kurang baca kali," sahutnya lagi sekakan-akan menjadi jaksa penuntut umum yang ingin mendakwa diriku yang memang sudah seminggu ini belum juga menyelesaikan tugas. "Ah nggak juga kok, mungkin memang perlu kursus bahasa kali," bela sisi hatiku yang lain seraya menjadi tim pembela terdakwa. Dan malampun semakin larut, aku hanya terpaku dan terdiam di depan kertas putihku ini, sehingga tak terasa ternyata aku sudah memasuki alam mimpi.

Semakin lama waktu yang tersisa menjadi semakin menipis dan habis saja, tugasku belum selesai sama sekali. Padahal teman-teman yang lain sudah menyelesaikan tugas mereka masing-masing. "Memang menulis ini sangat-sangat, dan sangat sulit yah!" ujar hatiku. "Memang sih, kelihatanya gampang, tapi ternyata susah juga nih” sisi lain dalam hati. Aku teringat dengan pesan ketua FLP Mesir waktu fathrah hadhanah , "tips menulis itu hanya tiga: Pertama, menulis. Kedua, menulis. Dan yang ketiga, menulis lagi dan menulis lagi." Pesan itu sejalan dengan peribahasa Indonesia yang mengatakan, “Alah Bisa Karena Biasa.”

Semakin lama aku termenung dan tenggelam dalam lamunanan panjang, aku pun jadi teringat dengan Thomas Alva Edison yang sewaktu beliau meneliti bola lampu pijar. Sewaktu beliau melakukan percobaan membuat lampu pijar. Ternyata bukan hanya dengan sekali masa percobaaan dia harus lalui, bahkan beliau harus melewatkan masa percobaaan sebanyak 999 dengan persentasi 999 kali kegagalan juga. Beliau baru merasakan keberhasilan ketika menginjak percobaan yang ke 10.000. Sejalan dengan ditemukanya bola pijar tersebut; ternyata memberikan dampak yang sangat besar bagi peradaban manusia. Yaitu merubah seluruh peradaban dunia yang gelap gulita menjadi peradaban yang terang benderang. Memberikan manfaat yang besar bagi jalannya peradaban umat manusia. Secara otomatis kejahatanpun bisa dikurangi dengan adanya penerangan tersebut.

Dan semenjak itu, beliau berlanjut menjadi seorang ilmuwan yang selalu menghasilkan karya yang berguna bagi manusia, dan salah satunya adalah penemuan piringan hitam. Disamping itu, beliau juga berjasa dalam hal penyempurnaan teknologi telepon yang ditemukan pertama kali oleh Alexander Graham Bell. Dengan telepon, kita bisa merasakan nikmatnya berbicara dengan orang yang kita cintai tanpa harus terbatasi oleh ruang dan waktu. Tahukah, sewaktu ia ditanya tentang resep keberhasilannya tersebut? Beliau hanya berkata, "bakat itu hanyalah satu persen saja. Dan yang sisanya 99 persen adalah tetesan keringat." Tahukah, ketika ia ditanya tentang pengalaman percobaan penemuannya yang membuahkan kegagalan? Beliau hanya menjawab: “Dengan kegagalan tersebut, aku telah menemukan 10.000 cara yang berbeda untuk menemukan bola lampu pijar.”

Kongklusinya, ternyata menjadi orang yang berhasil itu harus memiliki jiwa dan semangat yang tak pernah mengenal putus asa. Karena, setiap kegagalan yang telah beliau lalu ternyata bukan menjadi sebuah kendala yang bisa menghambat cita-cita seorang Thomas Alfa Edison yang sewaktu kecil pernah dianggap oleh guru SD-nya sebagai anak yang idiot. Dan ternyata, beliau bisa menepis semua anggapan-anggapan itu dengan sebuah bukti yang nyata; dengan hasil-hasil yang memberikan manfaat pada manusia.

"Aduh, kenapa yah kok aku malah putus asa sih, sedang Om Thomas yang telah banyak melalui berbagai banyak macam kegagalan saja, nggak pernah putus asa tuh!" ujarku dalam hati. “Dan bukannya Allah Swt menciptakan manusia sejak awalnya memang tidak mengetahui apapun. Namun, dengan usahanya sendiri calon manusia ini mencoba dan terus mencoba untuk bisa menjadi manusia yang hakiki," sahut hati kecilku. Didasari oleh pengalaman Om Alfa Edison tadi, kuputuskan malam ini juga untuk mencoba memberanikan diri; menulis apa saja yang ada di otakku ini, meski harus gagal 999 kali atau mungkin lebih. Dan segera aku serahkan ke majalah tercintaku ini, Sinar Muhammadiyah

telah diterbitkan di Majalah Sinar Muhammadiyah

Ekspresikan Tak Hanya Bahasa

Indonesia dengan letak geografis di antara dua benua dan dua samudera memberikan potensi sumber daya alam yang sangat menakjubkan, tanahnya yang subur dan harum memang menjadikan Negara ini sebagai Negara agraria yaitu Negara yang menfokuskan ekonominya pada bidang pertanian, lautnya yang luas pun menyediakan ikan dan hasil laut yang dapat mencerdaskan anak bangsa sehingga tak heran di buku sejarahnya pernah digoreskan tinta sejarah beberapa kerajaan maritim atau kerajaan yang kekuatan dan devisa negaranya bersumber pada laut seperti Kerjaan Sriwijaya di Sumatera Selatan dan kerjaan Samudera Pasai di Aceh.

Dari isi perut Indonesia pun tak kalah menggiurkan, hampir semua jenis barang tambang yang diperlukan manusia pun tersedia, dan yang tak kalah menakjubkannya adalah panorama alam Indonesia terlukis dengan indah oleh Allah yang maha pencipta sehingga menjadi objek wisata alam yang ramai dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri.

Gelar Jantung dunia tersemat di dada negeri Indonesia, hamparan hutan yang luas dan bentangan garis khatulistiiwa yang menyebabkan gelar ini mau tak mau harus disandang oleh negeri ini, sehingga siklus cuaca dan iklim dunia tergantung kepada negeri ini, jika hutan di Indonesia habis maka suhu bumi pun otomatis akan labil dan otomatis bumi ini akan mengalami bencana alam besar-besar disana-sini.

Kelebihan-kelebihan tersebut memang membuat bangga karena, dengan kekayaan alam yang melimpah ruah dan potensi alamnya yang kaya secara matematis bangsa ini adalah bangsa yang kaya raya atau dalam bahasa jawanya gemah ripah loh jina weh akan tetapi, dalam praktek lapangan ternyata bangsa yang satu ini haruslah mengggit jari sambil mengelus dada, bak ayam mati dilumbung padi bangsa ini terpuruk kedalam jurang kemiskinan, ditambah lagi dengan kondisi yang hampir dinyatakan bangkrut, disebabkan utang yang tercatat secara acak di beberapa pembukuan bank pembantu negara berkembang seperti IMF.

Keadaan ini memang bukan saja melanda negeri tumpah darah kita saja, sejak tahun 1998 memang beberapa negara dunia ketiga telah dinyatakan terkena guncangan ekonomi yaitu krisis moneter, bahkan negara sekelas China yang notabenenya memiliki hak veto di PBB pun dinyatakan hampir bangkrut, namun china mengambil satu langkah hebat dalam sektor ekonomi dengan tetap mempertahankan system ekonomi kemasyarakatan yang telah lama dianutnya namun, dengan beberapa revisi kebijakan moneter seperti menindak tegas pejabat atau intansi pemerintah yang berani melakukan perbuatan kriminal ekonomi, dan di sisi lain pemerintah China tidak lupa terhadap kemajuan ekonomi kerakyatan dengan jalan menggalakkan cinta produksi negeri sendiri. Dan terbukti cara ini ampuh untuk mengobati penyakit kronis yang melanda ekonomi Republik Rakyat China.

Pepatah populer mengatakan experience is the best teacher, dan sudah saatnya bangsa kita pun belajar kepada Pemerintah China dalam hal ini, tidak salahnya kita meniru dan mulai menerapkan cara tersebut karena tidaklah seluruh kegiatan plagiat bersifat buruk, terkadang plagiat juga dibutuhkan ketika kita dalam posisi yang sama, dan yang terpenting meskipun kita sedikit meniru, namun harus tetap mempertahan ciri khas bangsa Indonesia agar kita tidak kehilangan identitas diri sebagai sebuah bangsa yang besar. Dan satu hal yang menarik dari kebijakan pemerintah China adalah cinta terhadap produki negeri mereka sendiri.

Gerakan Cinta produk dalam negeri memang sangat diperlukan karena, dengan cara ini bisa juga meningkatkan ekonomi Indonesia, ibarat orang yang sedang jatuh cinta kepada yang ia cintai, ia akan melakukan apa saja dalam meluapkan isi hatinya. Begitu juga dengan cinta produk dalam negeri, jika masyarakatnya cinta kepada produksi negeri sendiri maka yang terjadi adalah pemerintah tidak harus lagi memikirkan bagaimana cara impor beras, bagaimana cara impor gula atau impor-impor lainnya, justru akan memikirkan bagaimana cara meningkatkan produksi gula atau beras karena jika masyarakat sudah cinta maka mereka lebih akan memilih produksi dalam negeri. Dan lambat laun produksi dalam negeri pun akan bertambah pesat dikarenakan permintaan masyarakat sendiri.

Namun kenyataan berbicara lain, masyarakat Indonesia mayoritas lebih bangga dan nyaman jika menggunakan produk negeri lain, di samping lebih keren kualitas pun terjamin sehingga tak heran kita dengan mudahnya akan temui barang impor dimana saja kita berada, dan sebaliknya mungkin kita hanya bisa menemukan barang cipta anak negeri sendiri hanya di sudut emperan kota dan pasar-pasar kecil saja, karena mayoritas masyarakat beranggapan barang negeri sendiri terasa belum layak untuk mengisi etalase toko-toko kapitalis yang dari hari ke hari semakin mencengkramkan kukunya di bumi pertiwi.

Kampanye cinta barang sendiri yang terjadi baru hanya bisa diekpresikan lewat bibir saja, bahkan terasa sangat naïf, karena kalangan yang biasanya menjadi panutan masyarakat saja, seperti pejabat atau artis belum dan nyaris tidak mau memakai barang negeri sendiri, sudah tak asing lagi pancar indera kita menyaksikan beberapa selebritis terkenal berlomba-lomba untuk menghamburkan uangnya hanya untuk shopping di negeri lain akibat tak yakin terhadap kualitas produk dalam negeri.
Lantas bagaimana bisa mewujudkan cinta produk dalam negeri sedangkan panutan masyrakat saja masih malu untuk mengakui keunggulan produknya sendiri, sehingga tak heran produk dalam negeri pun tenggelam oleh keperkasaan produk negeri lain, dan efeknnya tak hanya hilangnya wibawa produk negeri kita saja, bahkan karena kurang percaya diri masyarakat Indonesia terhadap produknya sendiri mengakibatkan hilangnya rasa bangga untuk memproduksi barang yang berlebelkan Made in Indonesia diakibatkan ketakutan tidak laku dipasar dan dicap kurang berkualitas.

Cinta haruslah diungkapkan begitu ungkapan seorang pujangga cinta tak kala ingin mendapatakan seorang kekasih, begitu juga cinta kepada negeri kita, boleh kita bangga dengan Indonesia yang penuh dengan keindahan dan kekayan yang berlimpah ruah namun rasanya kurang sekali jika kita cinta hanya lewat ungkapan saja, indonesia sekarang tak hanya membutuhkan ungkapan cinta saja akan tetapi Negara kita sekarang sedang membutuhkan bukti cinta kita terhadap negeri Indonesia.
Cinta Produk dalam Negeri haruslah digalakkan, karena dengan cara ini kita semakin bisa berpikir kreatif dan dewasa dalam mengolah aset bangsa kita yang sangat berharga. Jika kita memulai mencintai diri sendiri dan menghargai diri maka orang lain pun akan mencintai kita, begitu halnya dengan cinta produk negeri sendiri, jika bukan kita yang mulai mencintai lalu siapa lagi?

Lebaran

Allalhu Akbar Allahu Akbar La ilaha Illahu Wallahu AkbarAllahu Akbar walillahil ham.
Takbir menggema dan mengalun dengan indah di cakrawala alam kairo, sebagai kata perpisahan kepada sang tamu agung yang bernama Ramadhon Karim. Setelah menunaikan pembinaan diri di Madrasah Ramadhon, tak terasa waktu yang dinantipun datang sebagai hari kemenangan setelah menempuh perjuangan dalam membiasakan jiwa dari segala yang dilarang oleh Allah dan rasulnya menuju insan yang bertakwa.

Memang secara hakiki Idul Fitri pasti memberikan kesan tersendiri kepada setiap insan yang menatapnya, apalagi sebagai seorang Indonesia asli, pasti tidak dapat melupakan salam hangat dan pelukan mesra dari orang yang paling dicintai, atau prosesi sungkeman yang terkadang menitikkan air mata seorang anak yang sedang meminta maaf kepada kedua orang tuanya yang tercinta, atau suasana hangat seluruh keluarga yang berbagi saweran sebagai tanda kasih sayang antar anggota keluarga. Atau hidangan khas lebaran pun bermunculan di meja pertemuan dari rendang hingga opor ayam, atau kue nastar dan kue khas lebaran lainnya yang ikut pula memeriahkan hari kemenangan yang datangnya memang setahun sekali.

Namun dalam keheningan pagi Idul Fitri di Mesir, sedikit menyisakan kesedihan yang mendalam di benak para Mahasiswa Indonesia yang menuntut ilmu di Mesir, sebab beberapa kebiasan yang sakral ternyata tidak tampak dan seakan sirna dari suasana lebaran di Mesir, memang pada pengalaman yang terdahulu Suasana lebaran di mesir berbeda 180 derajat dengan kebiasaan lebaran orang Indonesia. Sebab, lebaran di Mesir dirasa tidak ada bedanya dengan suasana hari yang lain bahkan cenderung menimbulkan kesedihan tersendiri bagi penduduk Mesir, karena tak kala datang hari raya Idul Fitri, maka bagi mereka merupakan pertanda perpisahan dengan bulan Ramadhon karim yang menimbulkan kesedihan yang mebekas dibenak penduduk Mesir. Dan mungkin itulah menjadi sebuah jawaban dari beberapa rasa ingin tahu tentang keadaan yang memang jika dirasa terasa sangat berbeda dengan kebiasaan di tanah air

Kehidupan mesir yang sarat akan keindahan nilai islam selalu terlihat memiliki ciri khas tersendiri, seakan terasa sangat berbeda seratus delapan puluh derjat dengan keadaan dunia keislaman di Indongan buka puasa dan bahkan yang memilukan hati ada beberapa pihak yang bersikeras untuk tetap membuka usaha yang secara syar`I dilarang sehingga tak jarang dibeberapa daerah di indonesia terjadi bentrok yang seakan menodai kesucian bulan ramadhan.

Begitu pula saat lebaran tiba, naluri konsumtif masyarakat islam indonesia spontan tumbuh, dan yang pasti kesempatan ini tak di sia-siakan oleh para penjual pakaian-pakain baru dari kaki lima hingga mal bertingkat tujuh untuk menyajikan keperluan tahun ini, taak hanya itu saja, para pengusaha kue kering dadakan pun bak jamur pun mulai tumbuh dan kebanjiran pesanan kue lebaran, memang jika dipikir satu sisi memberikan peluang yang sangat bagus untuk membantu perekonomian rakyat kecil, namun di sisi lain suasana ini memberikan bukti ternyata hari raya di Indonesia terasa lebih "mahal" dan lebih mementingkan ego masing-masing ketimbang kepentingan saudara-saudara sebangsa yang masih kekurangan secara financial untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Beranjak dari sekilas perbandingan tadi marilah jadikan Idul Fitri ini sebagai tonggak perubahan diri menuju jiwa yang lebih bertakwa, bukanlah hari raya itu harus dimeriahkan dengan baju yang baru atau pun hidangan lebaran yang lezat lagi menggiurkan akan tetapi meriahkanlah Idul Fitri itu dengan "baju" baru yang telah ditenun selama satu bulan, yang di dalam bulan tersebut diajarkan rasa yang tak pernah dirasakan, yaitu tak kala lapar melanda ataupun marah melanda hati ini diajarkan untuk kearah sebuah rasa yaitu rasa sabar dalam menunaikan apa yang diajarakan oleh Allah dan rasulnya.