.

Tampilkan postingan dengan label Puisi Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Santri. Tampilkan semua postingan

18 Januari, 2012

Ketakutan Kata

Datang ke ujung pelupuk mata

Membedah keheningan nurani

Melewati batas alam sehat ini

Memberi kesejukan pada hati


Aneh kurasa

Ucapku ingin

Tapi pandang tak kunjung

Coba ucap lagi


Tapi kaku terpaku

Akal habis terasa

Tak jawabpun kuraih

Hanya bisu cipta sunyi sepi


Kuharap sapa muncul

Tapi tak juga sua

Tak terasa waktupun berlalu


Kenapa begini

Kenapa begitu

Aku tak tahu kapan ada akhir

Ketika cinta terus pergi

Akibat takut pada satu kata tolak

(Puisi Santri 9)

Khianat

Sehelai dahan pohon kelapa melambai

Seutas daun dirangkai

Sekelompok burung merak meliuk-liuk

Ketika semua merasa dia yang oke


Ketika dikatakan kata manis

Terasa bagai air teh yang sedap

Merasa bagai seorang yang tiada tanding

Ternyata yang kuminum teh berbisa


Seketika sekujur tubuh kaku

Menghitam mengeras dan menggumpal

Tambah disayat-sayat duri beracun

Dan tanpa sadar aku terkapar di tempat


Dia yang menuang teh kehidupan

Menuang ke dalam cangkir-cangkir hati

Ternyata merusak cangkir itu

Dan akhirnya jatuh berderai berkeping-keping

(Puisi Santri 7)

Hitam Pekat

Waktu kuleweati sederet burung camar

Berkicau indah namun tak bermakna

Sebuah asa menghitam membentuk

Waktu kutahu aku seorang hitam pekat


Secercah datang mendaki

Setapal tergopoh-gopoh

Sedesa berkerumun bak semut londo

Aku tetap seorang hitam pekat


Kau datang membawa kunang-kunang

Terang terkadang sinarnya

Namun tetap saja redup redam

Dan aku tetap seorang hitam pekat


Kucoba untuk menjadi bangau

Kesana-kesini ingin cari teduh

Namun tetap saja dia kekubangannya

Aku tetap saja seorang hitam pekat


Ketika kumerasa di terminal

Berkicau bernyanyi riuh riang

Namun aku tetaplah aku

Aku seorang hitam pekat


Aku ingin menjadi putih bersinar

Sinarnya merasuk ke dalam

Tapi tak ayal kapan itu ada

Dan aku sekarang hitam pekat

(Puisi Santri 6)

Gadis

Wajah mekar merona

Memberi kesejukan tersendiri

Gerakmu nan anggun

Cerminan asaku di kemudian hari


Kau karya Sang pencipta

Memiliki anugerah yang terpendam

Memberi ketenangan bagi yang memandang

Membuat orang merenung diri

(Puisi Santri 5)

Sahabatku

Kau sahabatku

Memberi arti alur hidup

Menerangi jalan gelapku

Menuang kesejukan dalam kekerontangan


Tapi….

Apakah kau tahu..?

Diri ini masih merasa sepi

Diri ini masih merasa hina

Diri ini kurang tenaga


Ah…

Andai kau tahu kau hai sahabat

Diri ini beku ketika menerima itu

Diri ini benci menerima itu


Itu yang kaupun tak mengerti

Itu yang membuat hati ini kelu

Itu yang membuat hati ini menangis

Seakan kau orang lain

Yang bukan menjadi sandarku

(Pusi Santri 4)

Luka

Tersayat tecabik

Terhempas terbuang

Terpotong tak luka

Terluka tapi tak luka


Hati mata nurani

Meberikan lentera hidup

Terbakar kadang oleh api

Dingin kadang bak kutub es


Tergores luka hati

Terasa menyengat diri

Membimbing jalan menuju duri

Andai kau dapat mengerti

(Puisi Santri 3)

Cinta di batas impian

Kasih datang menebar kasih

Datang membawa angin segar

Meresap ke dalam relung-relung hati

Menyalakan pelita hati yang lara


Gadis impian mencari jalan

Menebarkan rona-rona merah

Merekah bak bunga mawar

Memberikan ketenangan hati


Kau yang dipuja

Sulit diraih merenkuh rindu

Akibat diri yang hina dina

Akankah dapat kuraih kesejukan..?


Ah…

Andaikan mimpi itu menghampiriku

Hati mekar dihulu rindu

Memberi jalan kehidupan baru

(Puisi Santri 2)